Menemukan Kembali Perempuan Indonesia

Lukman , tanggal 21 April 2018

RA Kartini

[Hatimerdeka.comTak usang oleh zaman, tak ternodai oleh ruang. Ungkapan itu mungkin sejoli dengan momentum hari ini, 21 April yang kita sebut dengan momentum Hari Kartini. Ya, hari itu perempuan Indonesia yang telah mulai bangkit, melawan penindasan, deskriminasi dan ketidakadilan terhadap perempuan (gender inequality). Kebangkitan perempuan Indonesia melalui simbol Kartini sebagai perempuan yang tinggal di lingkungan istana telah melawan satu tradisi yang telah lama mengakar di masyarakat dengan apa yang disebut marginalisasi, subordinasi, dan beban ganda. Marginilasasi sebagai satu proses yang disematkan kepada sosok perempuan dengan membedakan jenis kelamin yang pada akibatnya perempuan tidak bisa bekerja dan hanya menetap dan tinggal di rumah semata. Sistem marginalisasi inilah yang membuat perempuan tertutup ruang geraknya dalam dunia kerja. Selain marginaliasi, ada kecenderungan dengan menilai peran perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki (subordinasi), serta pelabelan negatif terhadap cara kerja perempuan, di samping berbagai bentuk kekerasan lainnya.

Hari Kartini, kita menemukan kembali perempuan Indonesia dengan kerja-kerjanya. Kerja keras untuk mendidik anak Indonesia untuk lebih proaktif dalam berbagai kegiatan untuk tujuan pembangunan manusia Indonesia yang lebih bermartabat. Perempuan memiliki peran yang sama dalam pengembangan dan memajukan bangsa.

Dalam konteks kekinian, perempuan-perempuan Indonesia ikut terlibat dalam kegiatan perpolitikan, pengambilan kebijakan, dan kegiatan pengembangan lainnya. Usaha-usaha itu dapat kita saksikan dalam berbagai lini bahwa perempuan memiliki tempat di mana-mana. Bahkan, jauh sebelumnya, Undang-Undang (UU) No. 68 Tahun 1958 tentang Ratifikasi Konvensi Hak Politik Perempuan memuat di dalamnya kterlibatan kesamaan kedudukan, jaminan persamaan hak memilih dan dipilih, jaminan partisipasi dalam perumusan kebijakan, kesempatan menempati posisi jabatan birokrasi, dan jaminan partisipasi dalam organisasi sosial politik. Di sisi lain, penguatan terhadap peran perempuan diperkuat dengan undang Undang Dasar (UUD) RI Tahun 1945 yaitu pasal 28 H ayat (2 ) yang menyatakan “Setiap orang berhak mendapatkan kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan”. Atas dasar itulah, KPU mewajibkan keterwakilan minimal 30 % partai politik ada pada kepengurusan daerah sebagai bagian dari eksistensi perempuan di ruang publik.

Hari ini, kita turut berbangga bahwa perempuan Indonesia tidak bisa dipisahkan perannya dalam konteks berbangsa dan bernegara. Sejarah Indonesia, mencatat bahwa perempuan memiliki peran dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Cut Nyak Dien adalah repsentasi dari perempuan Indonesia dalam mengusir penjajah.

Selamat Hari Kartini, 21 April. Semoga dari rahim perempuan Indonesia, akan tumbuh generasi-generasi berkualitas untuk menjaga agama, bangsa dan negara dari segala bentuk ancaman.

Komentar