Hentakan Negeri Sesek II

Lukman , tanggal 22 April 2018

Lombok, Parawisata

“Jangan menunggu, tidak akan pernah ada waktu yang tepat. Mulailah di mana pun kamu berada, dan bekerja dengan alat apa yang kamu miliki” (Napoleon Hill)

Lombok Perawan 

[Hatimerdeka.com] Lombok Perawan: mungkin itulah bahasa yang sedikit khusyuk untuk memotret keindahan alam yang dimilikinya. Saksikan saja lautnya dari ujung barat pulau Lembar dan Timurnya labuan Lombok. Di bagian utara dihiasi gunung yang menjulang tinggi kel langit. Gunung  Rinjani yang menjadi mahkota pulau Lombok. Di bawah kaki gunung terhampar hutan yang luas dengan petakan tanah tersusun rapi. Orang-orang bule menyebutnya Nirwana keabadian. Tetapi hatiku tersentak saat melihat pulau yang bersinar di tengah laut itu telah dibangun dengan proyek-proyek raksasa bukan oleh orang Lombok sendiri, melainkan tangan-tangan asing yang dipoles dengan pekerja-pekerja rendahan dari orang-orang Lombok. Orang-orang asing telah membuat Lombok menyerupai surga. Keindahan bangunanannya, arsitek yang tembus pandang ke laut. Sejenak aku merasa bangga karena keberadaan orang-orang asing itu telah menghidupkan banyak dari orang-orang Lombok.

Selain berdiri bangunan yang megah di bagian Barat Lombok, terasa sangat janggal rasanya ketika kusaksikan bagian Selatan pulau ini. Poton Bako adalah wilayah paling selatan yang tanahnya tak pernah tersentuh. Saksikan saja tanah ini saat musim panas, beteriak agar kembang-kembang pembangunan segera disematkan. Aku juga tidak pernah mengerti dengan para datu-datu Lombok. Mereka berkuasa hanya karena dikuasai. Mereka menjadi datu bukan karena dirinya sendiri. Bukan karena kemampuan yang melekat pada diri sang datu, melainkan ada orang-orang yang aku kira mereka bukan orang-orang Lombok. Aku pernah mendengar kakek Imok kalau datu-datu Lombok sangat takut kepada asing. “Ilman, kamu tahu datu-datu selaparang itu sangat-takut diancam oleh orang-orang asing. Itulah kenapa, barat Lombok ini kau saksikan pembangun raksasa kian hari kian menjamur”. Begitu kata kakek Imok saat aku duduk di pantai Ampenan di senja kala itu.

Gugusan bintang biduk di malam gelap menjadi catatan waktu yang tak pernah terbantahkan. Tak sehelai pun keperawanan Lombok dijamah oleh orang-orang Lombok sendiri. Orang-orang Lombok lebih menikmati janda-janda pembangunan asing. Menjadi perabot-perabot yang siap dipakai di mana saja dan kapan saja dibutuhkan. Mungkinkah penjajahan Belanda dan Bali dan seluruh koloninya telah memakan seluruh jantung semangat hidup generasi dari orang-orang Lombok?

Aku dan Irma memasuki wilayah Sembalun tempat Pak Irman, paman dari Irma. Sembalun memang dikenal sebagai wilayah dingin karena dekat sekali dengan gunung Rinjani. Irfan sempat menceritakan kepadaku bahwa Sembalun menjadi tempat yang romantis bagi pasangan muda-mudi mengisi hari-hari liburnya. Mungkin ini kesempatan yang sangat baik aku mengajak Irma menikmati fanorama Sembalun dengan hamparan sawah bergugus dan bukit-bukit yang saling mengisi. Keindahan tercipta dengan mataku sendiri melihat semua tertata rapi.

“He, Ilman. Kamu menghayal terus dari tadi”. Sebuah suara memecahkan ketenanganku. Kamu sedang memikirkan pacarmu ya?

Eh, kamu Irma. Ngacau terus Kamu.

Kamu tahu kan aku tidak pernah bersama siapa-siapa selain kamu.

Apa lagi berduan seperti ini.

Berarti kamu pikirkan saya dong!

Kalau ia, terus kamu apa.

Ayo, kamu mau apa?  

Jika pun aku minta, kamu tidak akan pernah memberikannya.

Bagaimana aku bisa memberikan sedang kamu tidak pernah meminta.

Aku tatap wajah yang cantik dengan tatapan binar yang terang dan dengan tatap sayu. Telihat pada wajahnya penuh kelelahan. Entah, apa yang terpikirkan dari dalam dirinya.

Kamu cantik sekali, Irma. Cantik sekali. Aku tidak pernah mengatakan ini kepadamu selama ini.

Ia tertunduk dengan matanya menghadap ke bawah. Aku pegang tangannya yang halus dan kulekatkan pada dadaku. Aku merasakan rasa hangat menjalar ke jantungku. Pelan dan menyejukkan.

Semakin lama tangan itu bertahan di dadaku, semakin kencang jantungku berdetak. Terasa sakali. Keringat dalam dadaku terasa keluar.

“Irma, tatap aku”. Kata-kataku menghentikan pegangan tangannya di dadaku.

Ia terkaget dengan wajah yang sedikit merah disertai keringat.

“Ilman, jantungmu berdetak sangat kencang sekali. Ada apa?”.

Pertanyaan polos itu menyerang sekaligus menusuk tepat di ubun-ubun dan jantungku.

Aku tidak pernah menduga pernyataan itu keluar dengan mudahnya. Ia tidak merasakan apa yang aku rasakan. Ia tidak hadir pada saat aku hadir di sisinya. Mungkinkah ini tanda-tanda dari apa yang ingin diceritakan paman Idan satu minggu silam. Ia tahu sekali tentang Irma. Karena paman Idan tinggal satu RT dengan tempat bibi Rabiah. Ahh, aku tidak ingin pikiranku mengira-ngira sesuatu yang belum pernah aku lakukan.

Ahh, Irma. Ia selalu saja memberikanku tanda-tanda kehidupan. Kehidupan memang berisikan tanda-tanda. Tidak banyak orang yang dapat menangkap maksud dari tanda-tanda itu, termasuk aku. Tanda-tanda diciptakan tuhan agar manusia selalu waspada dan ekstra hati-hati. Tuhan memberikan sepasang telinga agar manusia lebih banyak mendengar tanda-tanda yang dibisikan alam. Sepasang mata untuk menyaksikan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Tuhan juga memberikan sepasang tangan dan kaki agar manusia memberi lebih banyak dan berjalan lebih cepat dalam kehidupan ini. Tuhan sangat paham kebutuhan manusia, namun manusia tidak memahami kebutuhan atas dirinya sendiri.

Dan suara keras Irma menjadi tanda kalau aku mulai dalam ketidaksadaran. Ketidaksadaran atas diriku bahwa aku adalah laki-laki. Laki-laki yang membutuhkan belaian kasih sayang seorang perempuan yang dia sayanginya. Laki-laki yang dalam dirinya tersimpan hasrat dan birahi. Dan birahi selalu mencari kenikmatan pada saat momentum bersahabat. Ahh, Irma. Kau sangat memahami diriku. Memahami gejala yang berubah pada saat aku bersamamu.

Karena tuhan telah menciptakan tanda, maka manusia mencari makna yang tepat untuk memberikan arti dari tanda-tanda itu. Terkadang manusia menyepakati tanda-tanda itu sesuai dengan kehendaknya sendiri. Ia tak ingin tuhan mengintervensi tanda yang disepakati manusia. Manusia menjadi sombong dan angkuh karena tanda-tanda yang disepakati itu adalah hasil yang mereka ciptakan. [L-Hakim, Bersambung ...]

 

Komentar