Hentakan Negeri Sesek

Lukman , tanggal 21 April 2018

Gugusan, Cinta, Bintang

“Cintalah yang membuat semuanya bersemi, pada luka yang  terlihat menyembuhkan jiwa”

Gugusan Cinta

Hatimerdeka.com Lombok: sebuah gugusan pulau nan cantik di belahan Timur Indonesia yang diciptakan tuhan. Bukan saja karena fanorama kecantikan alamnya, tetapi karena kehidupan masyarakatnya yang hidup dalam nuansa kesamaan rasa: saling menghormati, memahami perbedaan dan menyadari kemajemukan. Hidup berdampingan dengan perbedaan budaya dan agama, suku, bahasa yang sangat beragam. Kerukunan hidup dijalankan. Mereka tidak belajar pada teks-teks yang para ustazd dan tuan guru ajarkan. Mereka menemukan pada cerita-cerita yang dikabarkan dari nenek moyang mereka. “Kelak, Lombok akan menjadi gugusan cinta”. Begitu pesan-pesan yang sering disampaikan orang tua kepada anak-anaknya. Mungkin karena pesan itu, tanah Lombok menjadi tanah yang selalu diimpikan oleh banyak orang, terutama orang-orang di luar Lombok.

Sebagian orang mengatakan kalau Lombok adalah Nur – cahaya dari nur Muhammad nabi. Setiap petakan tanahnya berisikan nur Muhammad. Kerukunan dan saling tolong menolong hidup pada kehidupan masyarakatnya. Tak ada sekat status sosial, apa lagi saling menjatuhkan. Mereka saling membahu pada setiap kegiatan kemasyarakatan. Dibangun bersama dan dinikmati bersama telah menjadi warisan yang mengakar kuat. Lombok dengan sebutan Pulau Seribu Masjid telah melekat pada wajah asli Lombok. Seakan-akan tuhan telah menuliskannya di lauhil mahfuzh – Lombok dalam wadahnya berisikan minuman-minuman anggur dan marjan. Dipan-dipan yang didiami oleh wanita-wanita cantik dan memikat yang tuhan hadiahkan untuk orang-orang yang ingin menjaga wajah asli Lombok. Karena itulah, suatu saat nanti tanah ini akan menjadi perebutan. Persaingan menjadi satu keniscayaan yang akan dialami Lombok. Dan pada saat itu, kekuasaan adalah mujarobat yang menenangkan dan memenangkan bagi mereka yang memilikinya.

Yang berkuasa, dialah pemegang tahta pusaka Lombok. Pusaka Lombok inilah yang menjadi impian; bagi siapa saja yang datang dan berniat ingin hidup di Lombok. Lombok seakan perempuan cantik dengan daya tarik yang memikat – yang menampilkan lekuk tubuh dan menjadi incaran setiap orang yang memandang dan ingin menikmatinya. Memang, tuhan sengaja menciptakan Lombok bukan untuk orang Lombok yang dungu, bodoh, apa lagi sekedar bekerja untuk dapat makan minum kemudian kembali tidur dan bangun ketika senja telah datang. 

Senja mulai menampakkan warna cantiknya. Akan ada keteduhan dan kedamain bagi siapa saja yang mau merasakan keindahan dan sabar menunggunya hingga ia kembali kepada tuhan. Anak-anak bekeliaran, berlari dan saling kejar-kejaran. Ada diantara mereka yang bergulat dengan tubuh tanpa sehelai pakaian. Ada sebagian juga yang bermain dengan tanah kemudian saling menabur pasir. Aku menyaksikan anak-anak itu dalam nuansa syahdu. Hening sekali. Angin seakan hari itu bersahabat dengan alam. Memberikan kehangatan kepada siapa saja yang ingin menghilangkan kepenatan hidup. Warnanya mengabarkan kedamaain akan kehidupan.

Pada senja itu, aku menitip rasa agar aku tetap mencintai Lombok, tetap hidup di tanah Lombok dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Lombok adalah pusaka nenek moyangku. Sisa dari warisan dari tanah-tanah pilihan. Aku ingin menjaganya dari tangan-tangan kebengisan bagi mereka yang ingin menjadikan Lombok seperti Bali. [L-Hakim AB, Bersambung ...] 

Komentar