Sapaan Cinta

Lukman , tanggal 19 April 2018

| Saat Hati Mulai Bertanya |

Seperti biasanya di malam minggu, anak kosan yang jomblowati mendapat tugas alih-alih keharusan untuk menjaga kosan, dan malam ini untungnya aku tidak sendiRian mbak Dina datang ke kamar menemani. Benar-benar tamu yang sopan sebab ia datang membawa sebuah nampan kayu, diatasnya ada dua cangkir minuman yang dari baunya nampaknya itu kopi moccachinno kesukaannya plus bungkusan plastik putih sepertinya isinya gorengan.

“Lagi ga di apelin, makanya aku ke sini ngapeli kamu ya hehe”, begitu sapanya ketika memasuki pintu kamarku. Mbak Dina adalah salah satu dari beberapa anak kos yang cukup dekat denganku, selain dewasa karena umurnya memang jauh lebih tua, dia juga orang yang menyenangkan dijadikan tempat sampah curahan hati kami-kami yang lagi galau. Sepertinya akan banyak cerita tersaji malam minggu ini.

Acara tv belum juga ada yang menyenangkan, masih seputar sinetron yang entah mengapa untuk produk asli indonesia yang satu ini, aku kurang bangga terhadapnya. Untungnya dua jam lagi akan ada sebuah konser musik yang ditayangkan, untuk yang ini aku cukup menghargai karya musik anak negeri.

Mbak dina membuka bungkusan plastik yang dibawanya, ternyata isinya adalah gorengan pisang dan masih hangat pula. Moccachino hangat dan pisang goreng hangat waw sempurna.
“Kapan terakhir diapelin”, tanya mbak dina tiba tiba
“Hehe kapan ya, lupa ah”, jawabku singkat sebab ku tahu mestinya mbak dina tak perlu bertanya karena dia pasti tahu jawabannya.
Mbak dina tidak melanjutkan pertanyaan. Saat itu, sinetron yang ditayangkan bercerita tentang kehidupan percintaan anak SMA, ia beralih seperti ada sesuatu yang terkenang yang hendak diceritakannya.
“Dulu waktu kelas tiga SMA, semester dua, ada anak baru masuk ke kelasku, cowok. Anaknya sih manis, ya gantenglah enak juga bergaulnya, makanya dia juga akhirnya ga susah deket sama kita yang cewek-cewek. Ternyata rumahnya dekat dengan rumahku cuma beda komplek. Anaknya keren cuma agak pemalu, makanya pas baru-baru pindahan dia selalu pergi sekolah bareng aku, kalo ga aku yang ke rumahnya ya dia yang jemput aku di rumah”.
“Lama-lama jatuh cintrong dung mbak”, sela ku.
“Ga, malah orang-orang ga ada juga yang gosipin kita pacaran, malah mereka bilang tuh aku pengawalnya, hehehe apa karena dulu pas SMA aku tomboy banget ya. Tapi sampai lulus SMA setahuku dia belum punya pacar, walaupun yang ku tahu dia sempat dekat dengan beberapa cewek.

Lulus SMA, dia lanjut kuliah di jogja. Aku dulu masih bingung mau lanjut ke mana tapi akhirnya aku pilih ke Jogja juga. Di Jogja karena kampusnya beda aku jarang ketemu sama dia tapi ya setidaknya sebulan sekali dia main-main ke kosku. Sampai dua tahun berjalan kami di Jogja belum ada kisah istimewa tentang pertemanan kami .
Waktu itu, aku dapat libur semester ganjil selama tiga minggu, bingung mau kemana, pengen pulang, ga ah kasian duitnya, akhirnya seminggu terakhir liburan aku pergi ke malang, kan juga teman-teman SMA ku banyak yang kuliah di sana. Di malang ketemu temen-temen banyak, aku juga nginep di kosan temanku. Nah ceritanya dimulai dari sini...

Malam ketiga aku di sana, Ratu dia temanku SMA, yang aku nginap di kosnya. Sore jelang magrib gitu dia baru pulang dari kampus, tapi kok wajahnya tu sedih banget pokoknya beda. aku sih berpikir kayanya sedikit lagi dia bisa nangis. Ku dekati, aku tanya, kenapa. Sejak SMA aku dan Ratu memang cukup dekat, tapi sejak berteman juga aku tuh baru sadar kalo dalam obrolan kami, ratu tuh ga pernah cerita tentang perasaannya, misalnya dia suka sama siapa. Dia tertutup banget kalau soal yang satu itu.
Setelah aku tanya kenapa. Tiba-tiba dia melukku. Memeluknya kenceng banget, terus dia nangis, bener-bener nangis. Akhirnya dia cerita, sore tadi seorang teman kuliahnya menyatakan perasaannya. Sebenarnya, ga ada alasan buat Ratu untuk berpikir dulu atau bahkan menolak, karena cowok itu sebenarnya sudah sesuai dengan tipe idamannya. Ternyata Ratu ga bilang apa-apa, dia ga bilang mau pikir-pikir atau menolak, katanya dia langsung pergi.

Dia terus menangis, air matanya keluar semakin deras. Aku bertanya sepertinya selama ini ada sesuatu yang disembunyikannya, ada sesuatu yang dia tidak ingin aku tahu. Aku terus memaksanya bercerita, dan akhirnya...
Dia bilang... “Aku menyukai Rian, yah aku menyukainya, sejak SMA, sejak saat itu aku takut dan tidak ingin dia atau siapa pun tahu”.
Aku terpaku menatap tajam matanya, sungguh sesuatu yang tak pernah aku duga. Rian, dia anak baru itu, Rian tetanggaku itu, dan Rian sahabatku itu. Betapa aku tak menyangka, bukankah dulu saat SMA Ratu pun juga dekat dengan Rian, seandainya Rian tahu bagiku tidak sulit bagi Rian untuk mengiyakan perasaan Ratu, tetapi kenapa Ratu malah memilih menyimpannya.

“Aku suka sama Rian, bahkan mungkin bisa dibilang sangat menyukainya. Aku berharap ini hanya perasaan sesaat yang saat kita lulus SMA nanti semuanya akan hilang, apalagi jelas-jelas setelah lulus SMA mungkin aku tidak akan bisa bertemu dengan dia lagi. Tetapi ternyata tidak, perasaanku semakin menyesakkan dadaku, terlebih aku bisa jadi gila ketika suatu saat sesekali dia pernah berkirim sms denganku, dan hanya menanyakan kabarku. Aku selalu mencoba untuk tidak melihat akun facebooknya, namun bila rasa itu semakin berat, cukuplah foto-fotonya mengobati semuanya. Sebenarnya aku pun merasa mungkin perasaan ini sebaiknya aku sudahi, tetapi semakin aku mencoba, aku ga bisa. Sampai saat ini aku merasa aku tidak bisa jatuh cinta kepada yang lain selain Rian. Itu sebabnya, sulit bagiku membalas perasaan teman-teman lelakiku yang jelas-jelas menyukai aku. Tolong aku Din, entah kenapa aku hanya mencintainya, entah kenapa aku masih selalu berharap mendapat balasnya”.

Dua hari kemudian aku kembali ke jogja...
Ada sebuah tanggung jawab besar yang menggelayutiku. Aku masih tidak percaya, sampai hari ini Ratu masih bertahan, menanti keajaiban kalau-kalau tiba-tiba Rian datang di hadapannya dan menyatakan cinta kepadanya. Sementara Rian, yang ku tahu dia sudah tiga kali berganti kekasih.
Seperti sebuah petunjuk, tiba-tiba hp ku berdering, ternyata sms dari Rian yang berisi bahwa nanti malam dia akan bertandang ke kosan ku.

Malam itu...
Seperti biasa Rian bercerita sedikit tentang kekasihnya, kekasih yang baru dipacarinya enam minggu, dan nampaknya ia adalah seseorang yang sangat Rian dambakan.
Aku menyela ceritanya... Rian harus tahu...
“Di malang kemarin, aku menginap di kosnya Ratu”.
“Oya, gimana kabarnya, aku lama sih ga sms an sama dia”, jelas Rian.
“Kamu tahu... Ratu ternyata menyukaimu, bahkan sangat menyukaimu”. Rian terbelalak, ia mengerutkan dahinya, sama seperti aku, ia tak percaya. “Ratu sangat menyukaimu, bahkan sampai saat ini sulit baginya untuk jatuh cinta kepada yang lain karena selalu memikirkanmu. Sulit baginya untuk menepis perasaannya terhadapmu dan menerima perasaan orang lain. Sesungguhnya dia menderita karena menahan perasaannya sendiri terhadapmu”.
“Tapi aku ga pernah tahu, kenapa ia ga bilang”, tanya Rian.
“Tolong dia Rian, hanya kamu yang bisa melegakan perasaannya”.
Bagaimana caranya?
Terima perasaannya, setidaknya buat di merasa cintanya telah berbalas.
Aku sudah punya pacar.
Hanya kamu yang mengerti caranya.

Dua minggu berlalu...
Aku tak mendengar kabar juga jawaban dari Rian. Aku paham ini dilema besar baginya. Sungguh perbuatan yang diluar logika ketika dia harus membalas cinta seseorang di atas cinta yang telah ia bangun dengan kekasihnya. Aku terus memikirkan apa yang akan dilakukan Rian.

Seminggu kemudian, aku mendengar kabar dari seorang teman bahwa Rian dan kekasihnya kini tengah break, katanya ingin sama-sama menyendiri dan introspeksi, namun beberapa hari kemudian jawaban atas apa yang aku pikirkan terjawab dengan berita yang mengguncang. Ratu menelponku, nada suaranya sangat bahagia ketika ia menyatakan bahwa ia dan Rian kini tengah pacaran, dan walaupun hanya berhubungan lewat sms, telpon juga dunia maya. Ia bercerita, ketika malam itu Rian menelponnya dan bersedia menerima perasaannya, hanya saja sulit bagi Rian menjanjikan apakah mereka bisa bertemu dalam waktu dekat karena alasan kesibukan kuliah. Aku cukup lega mendengarnya, walaupun tak dapat dipungkiri tetap saja ada rasa yang mengganjal, akhirnya aku tahu, keputusan Rian dan kekasihnya break dan memilih sendiri-sendiri dulu adalah untuk ini. Kekasih Rian memberikan kesempatan kepada Rian membalas perasaan seseorang yang sangat menyintainya, seseorang yang jauh lebih dulu menaruh perasan kepada Rian, nampaknya ia mencoba mengerti bagaimana menderitanya ratu dengan perasaannya. Sementara Rian ingin menghormati perasaan kekasihnya, agar tidak ada cinta di atas cinta yang lain.

Ratu menutup telponnya, aku langsung menghubungi Rian. Nada suaranya biasa saja, seperti biasanya, mungkin karena dia lelaki jadi lebih mampu menutupi apa yang dirasakannya. Rian tak menceritakan dengan panjang lebar tentang bagaimana ia sampai menemukan dan mengambil keputusan untuk jawaban ini, ia hanya bercerita singkat, tetapi tersirat bahwa ia juga lega dan cukup kuat untuk mampu mengambil keputusan ini. Semoga yang dilakukannya benar, agar tidak ada lagi hati yang memendam perasaan yang sulit terbalas.

Setelah kabar itu, aku belum bertemu bahkan mendengar kabar Rian lewat sms atau telpon kembali, begitu juga dengan Ratu, aku semakin sibuk dengan tugas-tugas kuliahku sehingga belum sempat menghubunginya. Hingga pada suatu hari...Ratu menelponku, nada suaranya tidak gembira tetapi tidak juga sedih, yang ku dengar hanya suatu kelegaan bahkan aku merasa ia lebih bahagia dari terakhir kali aku mendengar suaranya dari telpon. Ia mengaku baru saja, sekitar lima belas menit yang lalu memutuskan untuk mengakhiri cintanya yang telah terbalas dengan Rian tepat disaat hari ke tiga puluh mereka jadian. Ini keputusan yang tepat begitu katanya.

Ratu: halo Rian, lagi apa?
Rian: aku baru aja pulang kampus. Kamu lagi flu ya kok suaranya agak aneh, kemarin-kemarin begadang terus ya?
Ratu: aku ga apa-apa. Tau ga hari ini sebulan kita jadian lho, kamu pasti lupa, hah pasti
Rian: ga lupa sih cuma ga pernah ngitung aja, maaf ya aku soalnya sibuk banget
Ratu: sebenarnya ada yang mau ku sampaikan Rian
Rian: apa
Ratu: sebaiknya ini kita sudahi sampai disini saja
Rian: maksudnya?
Ratu: terimakasih buat semuanya, maaf kalau aku terlalu merepotkan. Tapi ini yang terbaik, sekarang aku lega, setidaknya aku pernah mendapatkan balasan cinta dari seorang Rian. Dulu mungkin sulit melakukan ini, tapi sekarang kalau harus pergi aku sudah siap, aku sudah siap dan kuat menyudahi perasaan ini. Jadi diakhiri sampai disini saja. Semoga Rian mendapatkan yang terbaik, sedangkan aku semoga aku siap membuka hati untuk yang lain.
Mendengar apa yang di katakan Ratu, Rian tidak bertanya kenapa, ia hanya terdiam, yang terdengar hanya nafasnya, bahkan ketika ratu menutup telponnya ia tidak juga membalas salam perpisahan.
****
Sekarang kehidupan mereka bagaimana mbak? tanya ku.
Ratu sudah menikah dan tiga bulan yang lalu ia melahirkan anak pertamanya. Ia menikah dengan teman kuliahnya, yang dulu belum dia berikan jawaban atas perasaannya. Istimewanya adalah Ratu menikah dengan seorang yang juga bernama Rian
Terus Rian, bagaimana?
Rian...dia masih mencari cintanya.

[Kartika Mustafa]

Komentar