IDENTITAS NIRMA

Bang Iwan Wahyudi , tanggal 17 April 2018

Identitas Nirma (ilustrasi)

Bahkan meski Asna telah membujuknya berkali-kali, Nirma masih kukuh tak mau pulang. Keengganannya untuk pulang bukan tanpa alasan. Asna pun memahami alasan itu. Nirma sudah bosan dengan ocehan bapak dan ibunya yang nyaris dia dengar setiap hari. Ocehan yang kini dia telah hafal, bahkan letak titik dan komanya.

“Kamu seharusnya menghadapi mereka, bukan menghindar seperti ini.”

“Aku lelah, Na. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku ingin seberuntung dirimu.”

“Nir, ingatlah pengorbanan keluarga Yasir yang tidak sebanding dengan usaha kita membela agama Allah. Kasus yang sama sepertimu, bahkan Mush’ab bin Umair rela diusir oleh orang tuanya dan meninggalkan seluruh kemewahan dunia demi kecintaannya pada Allah dan Rasul.”

Nirma diam mendengar ucapan sahabatnya itu. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Sampai di rumah ia dapati bapaknya tengah membaca koran di ruang tamu.

“Kenapa baru pulang? Dari mana?” tanya bapak yang menyadari kedatangan Nirma.

“Tadi masih ikut majelis kajian sama teman.”

“Lain kali nggak usah ikut begituan. Apa manfaatnya? Membuang waktu saja, lha wong pekerjaan di rumah banyak.”

Nirma tak perlu menjawab, dia cukup menghembuskan nafas berat. Gadis itu langsung menuju kamar. Dia merasa lebih baik diam daripada harus meladeni bapaknya sebelum akhirnya berbuntut perdebatan yang tidak membawa manfaat. Beginilah nasibnya jika bertakdir lahir dari keluarga yang sangat awam agama. Ah, tidak. Bukan hanya keluarga, namun juga lingkungannya. Bahkan masjid di kampung Nirma hanya ada satu. Ah, terlalu berlebihan jika surau kecil dan tua itu disebut masjid. Tapi meski demikian, dari sanalah satu-satunya tempat Nirma bisa mendengar panggilan dari Allah dikumandangkan.

***

Nduk, kamu pakai kerudung mau kemana? Bapak kan sudah bilang jangan ikut kajian lagi. Bantu saja ibumu memasak pesanan catering.”

“Nirma mau ke warung Mak Yati sebentar. Ketumbar di dapur habis.”

Oalah, tapi ke warung depan rumah saja nggak perlu pakai kerudung seperti itu. Lepas kerudungmu! Jangan berlebihan, nduk.” perintah bapak dengan nada sedikit tinggi.

Nirma menyadari ekspresi dan nada suara bapaknya yang tidak suka. Bukannya melanjutkan langkah ke warung atau menuruti perintah bapaknya, Nirma justru berbalik masuk kembali ke dalam dapur. Dihampiri ibunya yang tengah memotong bawang, lalu mengambil alih pisau yang dipegang ibu.

“Biar Nirma lanjutkan. Ibu saja yang beli ketumbar.”

“Kenapa?”

“Pokoknya Nirma nggak mau keluar rumah.”

Sebenarnya hal seperti ini bukan pertama atau kedua kalinya terjadi. Larangan dari bapak mengenakan kerudung di sekitar kampung menjadi alasan Nirma untuk mengurung diri di rumah. Bukannya dia tidak mau bersosialisasi, hanya saja lebih baik tidak keluar rumah daripada harus menanggalkan kerudungnya.

“Nir, bapak mempersilakan kalau kamu kuliah pakai kerudung. Tapi kalau di rumah yang sewajarnya saja, nggak usah pakai kerudung. Nggak enak dilihat tetangga.” begitu kata bapak saat pertama kali melihat putri semata wayangnya mengenakan kerudung ketika akan pergi ke rumah tetangga.

Di masa awal mendapat peringatan seperti itu Nirma masih bisa memaklumi. Orang tuanya memang awam agama, bahkan iqro saja belum lulus. Karena itu perlu waktu untuk memahamkan keduanya. Tapi seluruh dalil yang telah dijelaskan oleh Nirma kepada bapak dan ibunya belum juga mereka terima dengan baik.

“Kamu ngajarin bapak sama ibu to? Biar cuma lulusan SMP pengalaman bapak sudah lebih dibanding kamu, teman bapak juga banyak. Kamu kuliah saja yang benar.”

Nirma tak berani membantah jika bapaknya sudah ngotot seperti itu. Sebenarnya Nirma bukanlah anak yang keras kepala. Tapi prinsipnya untuk mengenakan kerudung demi menunjukkan identitasnya sebagai muslimah telah tertanam kuat dalam dirinya. Apalagi sejak mengenal Asna dia semakin mengerti banyak tentang agama, yang sebelumnya sama sekali tak ia dapat dari orang tuanya.

Ketika larangan dari bapak dan ibunya Nirma rasakan sebagai penghalang kebebasannya mengenakan kerudung, sejujurnya gadis itu merasa iri terhadap Asna. Nirma dan Asna adalah dua gadis yang jauh berbeda latar belakang. Asna terlahir dari keluarga yang paham agama, dan telah mendapat pendidikan akhlak dan aqidah islam yang cukup. Karena itu, tentu saja tak sulit bagi Asna untuk bergerak sebebasnya dengan mengenakan kerudung. Sementara Nirma? Jangankan ingin bebas mengenakan kerudung, Nirma saja belum bisa memahamkan orang tuanya tentang kewajiban berkerudung bagi muslimah.

Dalam hal ini ibu Nirma tak mau kalah berkomentar dari bapaknya. Apalagi setelah mendapati anaknya mengenakan kerudung yang semakin hari kian melebar. Nirma hanya geleng kepala menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya memang pasangan yang kompak.

Nduk, kerudungmu ini kelebaran, terlalu panjang! Pakai yang sedang saja, yang sewajarnya gitu lo. Jangan berlebihan seperti itu. Nanti jadi buah bibir nggak enak. Kamu dikira ikut jaringan teroris.”

“Bu, kerudung bukan identitas seorang teroris. Kerudung adalah bukti identitas kita sebagai muslimah. Islam bukan teroris, Bu.”

“Kamu sebenarnya kenapa to jadi seperti ini? Jangan-jangan kamu kesurupan lelembut di kampus. Apa perlu kamu dibawa ke orang pinter?”

“Aduh, ibu ngomong apa sih? Jangan ngelantur, Bu.”

“Ngelantur piye? Lha wong kamu berubah jadi aneh begini gimana ibu nggak heran?”

***

Untuk kesekian kalinya Asna menjadi tempat Nirma bertumpu.

“Apakah aku berdosa karena tidak menurut pada mereka?”

“Yang berdosa adalah dia yang melanggar syariat dari Allah. Apakah kamu merasa begitu? Senantiasa ingatlah bahwa Allah itu yang utama!”

Nirma diam, hanya menatap Asna dengan sorot pandangan yang lesu.

“Aku paham bahwa ini sulit untukmu.” lirih Asna seraya mengelus bahu Nirma. Sejujurnya dia juga tidak tahu solusi terbaik untuk sahabatnya itu. Asna bingung.

“Bahkan meski islam menjadi mayoritas di negeri ini, ternyata aku belum sepenuhnya merdeka menjalankan syariat di dalam ajarannya. Ini benar-benar konyol.”

“Kuatlah, Nir!”

Kata-kata “sabar” sudah terlalu membosankan Asna berikan kepada Nirma. Bahkan Nirma juga mungkin sudah bosan mendengar itu. Meski memiliki makna tak jauh berbeda, setidaknya kata “kuatlah” lebih memilik energi.

***

Mentari bersinar hangat di waktu dhuha ini. Sudah menjadi rutinitas di jam 9 pagi, seorang pedagang sayur mangkal untuk melayani pembeli di sekitar rumah Nirma. Ibu-ibu berkerubung di sana sedikit lama. Bukan sibuk membeli sayur atau menawar harga. Tapi sebuah gosip hangat yang membuat mereka betah di sana. Gosip yang dalam hitungan tak lebih dari satu jam telah ditangkap oleh hampir seluruh telinga di kampung.

Ah, itu bukan sekedar gosip. Itu fakta. Fakta yang memilukan, pun memalukan. Fakta yang sepantasnya menjadi perhatian para orang tua yang memiliki anak gadis. Tak terkecuali bapak dan ibu Nirma.

“Aduh, jaman sekarang semakin mengkhawatirkan saja. Kamu harus pinter jaga diri lho, Nduk. Jangan bikin aib keluarga, apalagi sampai merusak masa depan.” kata ibu penuh khawatir.

“Nah, itulah alasan Nirma menutup aurat rapat seperti ini. Beginilah cara terbaik menjaga diri supaya mboten wonten mata jelalatan lelaki yang akhirnya berbuntut pemerkosaan seperti itu.”

“Iya juga sih. Kamu benar.”

Hati Nirma mengembang begitu mendengar respon baik ibunya yang pertama kali.

“ Tapi kalo kamu terlalu tertutup seperti itu mana ada pemuda yang mau ngelirik kamu? Kapan ketemu jodoh? Wis to, asal kamu nggak centil dan bisa menjaga tata krama tidak akan ada lelaki yang berani kurang ajar.”

Hati Nirma mengempis lagi. Ah, bapaknya benar-benar susah.

“Urusan jodoh sudah diatur Allah, Pak. Katanya kalo jodoh nggak akan kemana.”

“Tapi kalo nggak usaha mana bisa ketemu? Bapak ingin kamu dapat jodoh seperti bos di tempat kerja bapak.”

“Sudah tua dong! Nirma nggak mau.” protes Nirma.

Ngawur! Kamu jangan sembarangan kalo ngomong. Bos di tempat bapak selama ini kerja jadi sales masih sangat muda, tapi usahanya sudah sukses. Dia juga sangat sopan, baik dan ramah pada para pegawainya, termasuk bapak.”

“Tapi Nirma lebih bangga sama pemuda yang rajin sholat dan ngaji.”

“Kalo urusan itu bisa nyusul. Yang penting hidup sukses dulu, setelah itu ibadah bisa khusyu. Iya to? Sudahlah, kamu dengarkan saja nasehat bapak. Ini demi kebaikan kamu juga, Nduk.”

Nasehat demi kebaikan? Kebaikan yang memenjarakan kemerdekaan, begitu? Nirma mengomel dalam hati. Sulit sekali meluluhkan bapaknya ini. Apalagi sekarang mengaitkan dengan masalah jodoh. Ah, benar-benar sulit.

***

Apakah yang lebih membahagiakan bagi dua hati yang akan bersedekap dalam satu cinta? Itulah yang kini sedang memenuhi ruang pikir Asna. Kini hatinya dilanda bahagia ketika di sisi lain seorang sahabatnya tengah dalam kegalauan. Seminggu lagi janji suci antara Asna dan calon imamnya akan terikrar.

“Hidup ini benar-benar tidak adil, Na. Bagaimana mungkin kamu bahagia akan bertemu pangeran sementara temanmu ini sedang bersedih karena mendapat masalah baru?” ucap Nirma pura-pura marah, bercanda.

“Kamu dapat masalah apa lagi?” respon Asna justru khawatir.

“Kamu harus membantuku menyelesaikan masalah ini.”

“Iya, tapi katakan dulu apa masalahmu!”

“Setelah menikah berkunjunglah ke rumahku dengan membawa pangeranmu. Saat itu kamu akan membantuku sekaligus tahu masalahku. Jika kamu tidak berjanji, maka aku tidak mau datang ke acara walimah pernikahanmu.”

“Hahaha! Ancamanmu menggelikan.” Asna tertawa. Tapi akhirnya dia berjanji pada Nirma untuk berkunjung setelah menikah. Nirma tersenyum senang.

***

Sekitar tiga minggu setelah pernikahan, Asna menepati janjinya kepada Nirma. Dengan menggandeng lengan suaminya Asna mengucapkan salam di depan rumah Nirma. Ibu Nirma menyambut baik kunjungan sahabat Nirma itu.

“Bu, ini ukhti Asna teman Nirma di kampus. Dan ini suaminya, akhi Ramzan. Mereka baru menikah tiga minggu yang lalu.”

Sebenarnya tujuan Nirma meminta Asna bersama suami datang ke rumahnya sederhana. Dia hanya ingin menunjukkan kepada bapaknya bahwa meski berbusana muslimah dengan rapat, dia bisa mendapat suami seperti yang diinginkan bapak.

Belum lama mereka berbincang, bapak Nirma pulang.

“Lho, Pak Ramzan?”

“Lho, Pak Darto? Ini rumah anda, Pak?”

Dua lelaki di ruang tamu itu sukses membuat ketiga wanita di ruangan yang sama melongo bingung, sebelum bapak Nirma akhirnya menjelaskan bahwa Ramzan adalah atasannya di tempat kerja. Sebuah kebetulan yang tak mereka duga sama sekali. Yang paling merasa beruntung atas kebetulan ini tentu saja Nirma.

“Temanmu tadi cantik sekali, Nduk. Kelihatan anggun, apalagi bersanding dengan suami setampan itu. Kamu buruan nyusul!” kata ibu menunjukkan kekagumannya pada Asna.

Nirma tersenyum, kemudian melirik bapaknya seraya berkata, “Jadi gimana nih, Pak? Masih nggak boleh pakai kerudung sesuai syariat?”

“Sudahlah, terserah kamu. Selama itu menjamin kebaikanmu bapak menurut saja.”

Nirma tersenyum senang mendengar jawaban itu. Hatinya mengembang sangat lega. Ah, seharusnya Asna menikah dengan Ramzan sejak dulu agar dia segera mendapat kemerdekaan untuk mengenakan bukti identitasnya sebagai muslimah. Nirma tertawa dalam hati memikirkan hal itu.~

Oleh : Al Ghumaydha

Komentar